Jumat, 27 Agustus 2010

Jumat, 25 Desember 2009

Kadangkala Hidup ini tidak harus menang tetapi Mengalah adalah jalan terbaik

Bontang, 25 Desember 2009 23 :15

Teruntuk :
Wanita Muslimah Nan “Nyentrik”
Yang Selalu Rindu Akan Perubahan Dalam Dirinya

Untuk
Menjadi Yang Terbaik Di Mata
Allah SWT, Rasulullah
Dan
Malaikat-Malaikat Allah.

Bismillah Ar-Rahman Ar-Rahim
Assaalmu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.

Sebelumnya maafkan aku. Ternyata aku benar-benar belum bisa
memahamimu. Entah karena kita jauh, atau aku yang terlalu sok sibuk,
atau aku yang terlalu cuek dengan keadaan?? Ah, aku tidak tahu.
Mungkin hanya Allah SWT yang tahu jawabannya. Karena aku yakin, ini
semua adalah rencana Allah SWT yang indah buat aku.

Melalui surat ini, aku ingin berbicara denganmu
dengan hatiku, bukan dengan mulut dan nafsuku. Aku baru tahu
kesulitan apa yang kamu rasakan setelah aku mendengar ceritamu tadi
siang melalui telepon. Melalui surat ini pula, aku ingin menjawab
pertanyaanmu dengan ilmuku bukan dengan ilmu orang lain. Akulah yang
harus menjawabnya sendiri.

Mas Ary Ginanjar bilang : “Jangan ijinkan hati
kita ini kecewa, sakit, tersakiti, dan disakiti oleh orang lain”.
Rasulullah pun mengajarkan kita untuk bersikap IKHLAS dalam segala
hal di dunia ini. Menurut aku, jika kita bisa bersikap IKHLAS kepada
Allah SWT, maka sesungguhnya kemenangan telah berpihak kepada kita.

Aku ingin mengawali jawaban aku ini dengan sebuah kata IKHLAS. Kita
sebagai manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Keputusan akhir tetap
ditangan Allah SWT.

Tidak ada alasan bagi seorang muslimah untuk
menolak pinangan dari seorang laki-laki muslim yang ingin menyatakan
niatnya untuk menikahi wanita muslimah tersebut. Menolaknya adalah
dosa. Sebab, sebaik-baik manusia di dunia ini adalah yang paling baik
akhlaknya, amalnya dan ketakwaanya kepada
allah SWT. Allah SWT akan marah apabila salah satu dari kekasih-Nya
itu dikecewakan oleh orang lain.

Semua orang, semua manusia di dunia ini, pasti
mengharapkan jodoh yang baik dan setia pada pasangannya. Untuk
menjadi baik dan setia tentunya kita harus memahami sifat-sifat Allah
SWT yang tercantum dalam Asma Allah Yang Agung yaitu Asmaul Husna.
So, konsekuensinya kita harus lebih meningkatkan dan mengenal Allah
SWT lebih dekat untuk bisa menjadi orang yang baik dan setia
pada pasangannya tersebut. Karena semua Asma Allah mengajarkan pada
kita untuk menjadi orang yang baik. Maka kita harus belajar dari
Asmaul Husna.

Mari kita bertanya dalam
hati, benar gak sih kita ini menginginkan jodoh yang baik dan setia
pada pasangannya? Jika jawabannya iya, pasti kita akan mencari calon
jodoh yang baik agamanya. Insya Allah jodoh yang agamanya baik,
sikapnya akan baik pula terhadap kita.

Nah, semuanya aku kembalikan kepada kamu. Aku percaya bahwa cinta
tidak harus memiliki. Keinginan untuk memiliki berarti bukan cinta
namanya, tetapi nafsu. Aku yakin kamu pasti juga menginginkan jodoh
yang baik dan setia pada pasangannya.

Jujur, aku mengagumimu. Bukan kecantikan fisikmu semata yang mencuri
hatiku melainkan kecantikan hatimu yang menggoda imanku.

Mencari jodoh, buat aku seperti lomba lari cepat
100 meter (Sprint).
Seorang Sprinter sejati
akan mampu memenangkan sebuah lomba jika dia berhasil malakukan start
awal yang lebih baik. Start awal disini adalah melamar atau meminang
seorang wanita muslimah yang Insya Allah baik agamanya.

Bodohnya, saat ini aku belum bisa melakukan start
awal tersebut karena masih begitu banyak
persiapan dan pelatihan yang diberikan oleh Pelatihku. Sepertinya
Pelatihku belum mengijinkan aku untuk ikut lomba lari Sprint
pada tahun ini. Aku harus lebih banyak berlatih terlebih dahulu.

Aku tidak boleh kecewa, aku tidak boleh memaksakan
diri untuk ikut ambil bagian dalam lomba lari Sprint
tahun ini. Biarkan sebuah Piala Emas
yang aku impi-impikan selama ini menjadi milik Sprinter
lain yang lebih siap dan kuat dalam
memenangi lomba.

Toh tahun depan masih ada lomba seperti ini lagi.
Aku harus secepatnya melahap semua instruksi dan pelatihan yang
diberikan Mentorku agar secepatnya bisa ikut lomba lari Sprint tahun
depan. Aku benar-benar ingin mendapatkan Piala Emas tersebut.

Itu tadi sekelumit perumpamaan tentang bagaiman cara mendapatkan
seorang jodoh yang baik. Kita harus mengambil start awal terlebih
dahulu sebelum orang lain mendahului kita.

Aku ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kamu.
Aku jadi ingat, dulu aku pernah berjanji pada diriku sendiri, aku
tidak boleh dan tidak akan jatuh cinta lagi sebelum aku mampu dan
siap untuk segera menjadikan dia sebagai pendamping hidupku.

Konsekuensi dari jatuh cinta sebelum saatnya memang seperti ini.
Selama kita belum bisa mengabadikannya dalam jalinan pernikahan yaitu
Akad Nikah, kita harus siap untuk kehilangan. Kita harus siap kecewa
dan sakit hati. Karena cinta yang hadir sebelum Akad Nikah adalah
cinta yang semu dan tidak perlu di agung-agungkan.

Dan mungkin juga, perasaan yang saat ini hadir
diantara kita, adalah sebuah bisikan syaiton yang ingin menyesatkan
kita. Idealisme kita sebenarnya sama. Sama-sama tidak ingin
berpacaran. Niat awal kita adalah Ta’aruf. Tetapi sepertinya
idealisme kita sekarang ini pudar, hilang dan bahkan tidak ada
bekasnya sama sekali.

Dan jika Allah SWT menghendaki semua ini, seperti
yang kamu ceritakan : “Bahwa dulu seseorang yang ada di dalam
hatimu dan kamu sangat mengagumi dan mencintainya tiba-tiba ingin
melamar kamu. Bukankah itu lebih baik buat kamu dari pada kamu
terjebak dalam lingkaran syaiton ini bersama aku?

Aku tahu, aku bisa merasakan, bahwa cintamu padanya sebenarnya
sungguh luar biasa hebat dan dalam. Meskipun engkau pernah
dikecewakannya. Tapi bukankah keinginan dia saat ini adalah sesuatu
yang engkau impi-impikan sejak dulu?

Aku tidak ingin mendahului keputusan Allah SWT.
Jujur, aku mengagumimu namun aku belum berani untuk mencintaimu.
Sekali lagi, cinta yang hadir sebelum Akad Nikah menurut aku adalah
cinta yang semu. Bullshit,
mungkin istilah kerennya sekarang seperti itu.

Insya Allah, aku IKHLAS dengan semua keputusan Allah SWT yang
ditetapkan untukku nantinya. Aku sendiri yang salah. Telah
mengijinkan hatiku untuk mengagumi keindahanmu, tanpa berusaha
secepatnya (maksimal 3 bulan) untuk menyatakan keseriusanku padamu
melalui wali nikahmu.

Sekarang keputusan ada di tangan kamu…yang bisa memutuskan
hanya kamu sendiri…

Maafkan aku, alasan kenapa aku belum berani melamar kamu; karena
masih banyak kewajiban dan tanggung jawab yang harus aku laksanakan
dan aku persiapkan untuk menjemput masa depanku.

Sekali lagi terima kasih. Karena kamu telah
mengigatkanku. Melalui pengalaman ini aku akan belajar untuk lebih
menjaga hati dan tidak jatuh cinta pada seseorang sebelum aku
benar-benar siap dan mampu untuk melaksanakan sunah Rasul yaitu
menikah.

Aku yang mengagumimu…..
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Terima Kasih Ya Allah, Ternyata Engkau Masih Mencintaiku…